Apa Bedanya KPK & Polri Jika Sama Konspirasi?

Penangkapan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) oleh Bareskrim Mabes Polri membuat panas situasi di Indonesia kemarin Jumat, (23/1). Banyak sekali mengalir dukungan ke KPK, ya tidak masalah, sudah sewajarnya karena KPK sebagai lembaga antirasuah mendapat simpati publik lebih banyak dibandingkan kepolisian yang ditakuti ketika mereka ada di pojok-pojok lampu lalu lintas.

Perlu dipahami pimpinan KPK itu bukan dewa yang tak punya dosa, mereka itu manusia biasa, yang hebat adalah lembaganya. Jadi tidak usah memperkeruh suasana dengan statemen-statemen politik seperti yang dilakukan Abraham Samad ketika jumpa pers malam kemarin. Penyelesaian kasus ini idealnya diserahkan kembali kepada undang-undang dan peraturan yang berlaku.

Indonesia merupakan negara hukum yang berlandaskan UU. Tapi ingat, konspirasi politik itu ada. Menilai rentetan kejadian yang sangat terbaca sebagai sebuah rangkaian rencana tersusun, Saya berpendapat dua lembaga hukum kita sedang saling sandera dan terlibat konspirasi politik. Syahwat politik dua lembaga hukum ini cukup tinggi menurut Saya sehingga memungkinkan terjadi konspirasi politik. Padahal penegak hukum tidak boleh atau haram hukumnya berpolitik. Berikut Saya nukilkan beberapa poin kesamaan kejadian dan rencana yang tersusun apik secara politik baik oleh pimpinan KPK, maupun pimpinan Polri.

SAVE KPK, bukan pimpinannya!

Penetapan Budi Gunawan jadi tersangka:

  1. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad mengaku telah MEMPERINGATKAN presiden tentang Budi Gunawan dulu sewaktu seleksi menteri.
  2. Budi Gunawan diduga menerima suap dan gratifikasi.
  3. Waktu penetapan status tersangka 12 Januari 2015, tepat sehari sebelum diadakannya fit and propertest oleh DPR RI, dan sesudah diajukan sebagai calon tunggal Kapolri.
  4. Menurut beberapa LSM waktu itu, ini merupakan upaya kriminalisasi terhadap calon Kapolri.
  5. Telah lengkap 2 alat bukti.

Ditangkapnya Bambang Widjayanto oleh Bareskrim Polri:

  1. Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Ronny Sompie mengatakan MENERIMA LAPORAN WARGA tentang tindakan kriminal Bambang Widjayanto.
  2. BW diduga menghadirkan saksi palsu pada sidang sengketa Pilkada Kota Waringin Kalimantan Tengah 2010.
  3. Waktu penangkapan Jumat 23 Januari pagi, Bambang Widjayanto ditangkap oleh Bareskrim Mabes POLRI, seminggu setelah KPK menetapkan calon tunggal Kapolri sebagai tersangka.
  4. Menurut beberapa LSM kemarin, ini merupakan upaya kriminalisasi dan pengkerdilan KPK.
  5. Telah lengkap 3 alat bukti.

Melihat poin-poin di atas pertanyaannya, apa bedanya KPK dengan Polri?

Saya lulusan Kampus Tercinta Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta dari Fakultas Ilmu Komunikasi konsentrasi ilmu Jurnalistik 2007-2011. Semasa kuliah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Yakin Usaha Sampai untuk Iman Ilmu dan Amal.

21 comments On Apa Bedanya KPK & Polri Jika Sama Konspirasi?

  • Sebuah artikel yang sungguh-sungguh sangat biasa, cenderung nyampah. Sama dengan judulnya “Apa Bedanya KPK & Polri Jika Sama Konspirasi?” isi artikel ini cuma mengajukan pertanyaan sambil membuat bingung pembaca, kemudian coba-coba memasukan deretan peristiwa yang hampir semua orang (yang mengikuti pemberitaan ini) sudah tahu, tanpa mengupas lebih detil apa kemungkinan penyebab itu semua. Belajar politik dulu sana.

    • makasih ya sarannya, Saya akan belajar politik lebih baik lagi biar artikelnya bisa ga nyampah lagi. Dari urutan kesamaan peristiwa yang mungkin semua sudah tau itu, ternyata mereka menutup mata kalau KPK melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Polri, semua memang sudah tahu, tapi semua juga munafik, menyudutkan Polri terus KPK? Standar ganda kebanyakan orang-orang ini kanda 🙂

      • Coba jelaskan apa yang kamu maksud ‘standar ganda’ dalam peristiwa ini, dalam satu kalimat saja. Kalau ga bisa menjelaskan, maka ada baiknya kamu jangan suka menghadirkan kebingungan buat orang, termasuk buat kamu juga.

        Kalau pada pemikiran kamu ini semua ada kaitannya dengan konspirasi, maka: Kamu harus mampu berfikir diluar fenomena yang nampak (diluar pertikaian KPK-Polri). Misalnya, bahwa konflik ini sengaja diciptakan/diatur oleh kelompok yang berkepentingan melemahkan salah satu diantara keduanya, demi atau atas kepentingan tertentu. Kalau cuma mampu berfikir standar saja, jangan bawa-bawa konspirasi, itu justru gak keren bro.

        Ya. Saya malu baca artikel kamu, judul dan isi tidak seimbang. Yasudah, belajar dulu.

        • para pendukung KPK (baca : BW dan Samad) standar ganda karena penetapan BG begitu terencana dengan matang sama halnya dengan penangkapan BW, terus kenapa hanya KPK yang dibela? cukup mas menjelaskan standar gandanya 😀

          • Kalau dukungan mereka kamu anggap standar ganda, lalu menurut kamu apa kepentingan mereka menerapkan standar ganda?

  • kepentingannya? pertama bisa jadi mungkin karena uang (dengar desas-desus isu ga jelas, tapi belum tau juntrungan kebenarannya makanya ga ditulis) dan paling kelihatan jelas menurut Saya tidak punya kerangka berfikir dalam melihat permasalahan. Jika jelas melihat masalah, maka kejadian yang dialami BW tidak jauh berbeda dengan yang dialami BG dari runtutannya (makanya Saya urutkan persamaannya ditulisan Saya, meskipun orang semua tahu, tapi belum tentu mengerti (kayaknya kebanyakan yang belum mengerti)). Yang diselamatkan itu KPK nya, bukan BW nya, biarkan BW diproses, BG diproses!

    • Wah, absurd sekali kamu. Justru kamu yang tidak mampu melihat lebih dalam lagi dari fenomena yang nampak. Yang kamu sebut tidak punya kerangka berfikir itu justru yang mampu melihat kepentingan oligarki politik berkuasa atas pelemahan institusi penegak hukum disatu sisi, dan dominasi di sisi yang lainnya.

      Ini yang paling lucu “Yang diselamatkan itu KPK nya, bukan BW nya…” Kamu pikir KPK itu bisa berjalan sendiri tanpa ada pimpinannya? Siapa yang akan mengambil keputusan? Gedung yang akan mengambil keputusan maksud kamu bila orangnya tidak penting? Untuk mengambil keputusan saja ada aturannya tidak semata ada pimpinan. Baca dulu Undang-undangnya sana.

      • oia nanti Saya baca UU nya mas, makasih lagi sarannya. ya ampun mas masa gedung yang ngambil keputusan, sampean lucu. hehe… ya pimpinan KPK yang bermasalah digantilah. nah betulkan pelemahan KPK karena BW ditangkap, terus penetapan BG jadi tersangka sehari sebelum fit dan proper test namanya apa? ini yang disebut standar ganda, karena sikap KPK dan Polri dalam hal ini sama, sama-sama bermain politik, padahal penegak hukum haram hukumnya bermain politik. Mengatur waktu penetapan status seseorang (yang bisa terbaca dengan sangat jelas) adalah permainan politik.

        • Diganti? Ya ini memang bisa jadi salah satu tujuannya. Jangan-jangan kamu yang dapat uang dari tulisan kamu ini ya demi pelemahan KPK?

          • tuh kan keliatan, kayaknya mas masih belum bisa melihat masalah dengan jelas.:D jika ada upaya pelemahan KPK, terus gimana dengan upaya pelemahan Polri? lebih dalam pelemahan Presiden yang dilakukan oleh KPK? Nerima uang? hehehee, tulisan Saya sama sekali tidak melemahkan KPK, justru menguatkan lembaganya 🙂

  • Hadeuh. Capede. Coba kamu baca kasus BLBI deh (belum pernah baca kan?). Cari juga berita tentang KPK yang menyangkut BLBI setahun belakangan. Lalu hubungkan kasus BLBI-Oligarki politik berkuasa-KPK. Jangan ngomong politik kalau malas baca dan sempit nalar serta cara pandang.

    Pelemahan presiden? Bruakakakakakakaka. Cara berfikirmu itu loh, amburadul. Eh engga deh, kamu terlampau jenius kayaknya buat seukuran manusia.

    • ga dijawab ya mas yang pelemahan Polri oleh KPK waktu menetapkan BG tersangka “diwaktu” yang telah ditentukan itu 😀 (tuh bener berartikan berstandar ganda, kan polisi sama kpk sama2 penegak hukum yang punya kewenangan, kok satu dibela satu enggak, harusnya posisikan dengan sama dimata UU hukum)

      wah ngebahas BLBI, bahas aja dulu kasus ini baru dilebarin 😛 mas kan pinter orangnya, klo pinter berarti harus fokus dong ya, jng dialihin isunya. hehe.

      • Pelemahan polri dan pelemahan presiden itu lelucon paling menyedihkan yang pernah saya dengar. Itu juga sudah saya jawab diatas: “Bruakakakakakakaka.” Kamu berfikir kasus ini berdiri sendiri ya, tanpa ada kaitannya dgn kasus lain? Ini lah letak kebebalan kamu. Saya minta kamu baca kasus BLBI itu, justru supaya tahu alur atau kaitan politik dari fenomena yg meledak sekarang. Ayo, malasnya jangan dipelihara.

        Padahal sudah saya singgung lho diatas: “Lalu hubungkan kasus BLBI-Oligarki politik berkuasa-KPK.” Oligarki politik berkuasa itu menunjukan kelompok yang berkepentingan atas konflik yang sekarang ada. Tapi sayang, kamu memang terlalu polos untuk tahu politik, malah tidak tahu apa-apa. Sehingga tidak mampu menangkap. Tapi saya bisa paham.

        • lho lho lho, bukannya mas yang bebal ya, dari tadi kan saya udah jelasin jika kelakuan KPK dan Polri sama saja, terus kok yg terus digaungkan itu pelemahan KPK? :3 penetapan tersangka BG adalah pencorengan nama presiden… Saya paham klo mas belum bisa melihat masalah dengan jelas 🙂

          Solusi masalah ini jelas, selamatkan KPK dengan membersihkan pimpinannya yang bermasalah, begitu juga dengan Polri, bersihkan polisi dari permainan politik.

          Ayo mas standar ganda nya jangan dipelihara, mari suarakan penegakan hukum yang adil tanpa pandang bulu, semua sama dimata hukum mas, begitu juga dengan KPK, lembaga itu ga kebal hukum lhoo 😀

          • Haha. Pelemahan polri? Polri itu pegang senjata, diperlemah pun percuma, mereka tetap kuat. Astaga. Anda ini berpikir kesitu saja tak mampu.

            Baiklah, biar saya beritahu. Disisa masa jabatanya, kepengurusan KPK yang sekarang berencana mengusut kasus BLBI. Anda tahu itu? Tentu tidak, karena anda kan malas membaca.

            Mengusut BLBI artinya juga adalah menyeret Emak Banteng PDIP (Mega) ke jerat KPK. Dalam keterangannya, KPK sudah seringkali menerangkan bahwa tidak takut memanggil Mega untuk diperiksa. Ini lah yang membuat panik seluruh jajaran banteng, kecuali beberapa kader muda yang memang mengambil posisi tidak tunduk pada Mega. Anda tidak tahu kan? Saya maklum, pengetahuan anda memang cuma sebatas konspirasi, itu pun tau dari wikipedia.

            Apa hubungannya dengan BG? Menurut beberapa analisis, konflik KPK vs polri memang sengaja diciptakan agar kerja KPK mandeg dan lembaganya tidak memiliki legitimasi. Jadi, semua ini didesain oleh pihak yang berkepentingan: konflik KPK vs polri cuma pengalihan, tujuan utamanya lembaga ini tidak memiliki legitimasi. Siapa yang mendesain? Menurut saya, ya mereka yang tidak ingin BLBI diusut. Dan mereka berhasil.

            Nah, begini saja. Misalnya, proses pemilihan kapolri itu lancar tanpa ada masalah apa-apa. Maka hubungan polri-KPK normal saja. Dalam situasi seperti ini, tentu tudingan Hasto (PDIP) terhadap Samad dan laporan Sugianto (PDIP) akan memunculkan kesan PDIP vs KPK. Namun dengan setting yang baik oleh si pelaku, BG berhasil dinaikan jadi pengalih dan memunculkan drama berjudul polri vs KPK. Tujuan juga hampir berhasil: KPK akan tidak memiliki legitimasi (anda tahu ada satu lagi pimpinan KPK dilaporkan polisi?).

            Ngerti gak? Ini memang butuh pengetahuan mendalam dan logika berfikir yang kritis, anak HMI biasanya emang gak punya. Lah gimana mau kritis, sama kakanda aja mesti tunduk, belum tentu kakandanya itu benar.

            Bukan saya yang tidak mampu melihat masalah dengan jelas, tapi anda yang ilmu dan pengetahuannya yang dangkal.

  • Mas ini terlalu jumawa sama seperti pimpinan KPK 🙂 Saya tidak perlu umbar apa yang saya baca karena dalam hal ini tidak perlu, nanti klo diumbar mas malu sendiri. hehe.

    Dugaan BLBI mas (mungkin) bisa saja benar. Justru dengan pendapat yang mas bikin sendiri akan semakin menguatkan pendapat Saya yang mengatakan KPK bekerja berdasarkan kesepakatan-kesepakatan politik untuk menentukan timing membahas suatu kasus (sangat tidak pantas untuk pimpinan lembaga penegak hukum).

    Masalah BG kan jelas pangkal masalahnya si Samad sendiri yang menetapkan status tersangka pada WAKTU yang sangat HEBAT 😀 (kembali menguatkan kalo KPK bekerja berdasarkan pesanan). KPK main politik dengan menyandera banyak kasus pejabat publik. Tinggal diatur aja kasus mana yang akan dikeluarkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi (Saya ga perlu sebutkan kasus-kasus simpanan KPK yang hilang sebelum jelas pelaku dan hukumannya, karena Saya tipe orang yang fokus ga kyk mas ini :)).

    Untuk pimpinan KPK yang dilaporkan, sekali lagi saya tidak ingin umbar apa saja yg saya baca, jangankan itu, mas tahu klo KPK saat ini pimpinannya cuma ada 4? jng2 ga tau, krn baca berita baru 2-3 hari belakangan (aduh ikutan sombong jadinya kan) hehe. Mas tau juga KPK itu sifatnya semacam presidium? dan ga ada presidium yang jumlahnya genap :).

    untuk tuduhan mas tentang anak HMI jg Saya tidak perlu jawab, karena jangan-jangan mas ga tau, dari 5 presidium KPK sbelum desember 2014 lalu, 3 nya adalah senior di HMI, dan sekarang dari 4 pimpinan KPK, 2 nya akan HMI, dan yang sedang kita masalahkan ini adalah anak HMI (BW) :v keliatan kan siapa yang baru baca berita tapi sudah sok paham 😉 (maaf ya jadi sombong, ikutan si mas)

  • Keuntungan KPK ‘main politik dengan menyandera banyak kasus pejabat publik” itu apa ya? Hihi.

  • Maksudnya, motif politik KPK ‘main politik’ seperti yg anda tuduhkan itu apa?

  • nah ini pertanyaan yang sangat bagus dan penting. jujur Saya sendiri ga tahu jelas untuk tujuannya karena apa (mungkin pengakuan Hasto kemarin perlu diselidiki lebih jauh).

    pimpinan KPK ini cuma alat mas, yang belum ketahuan dalang dibelakangnya. Toh kita juga jangan menutup mata dengan SBY (mantan presiden itu bukan ga aktif lagi dipolitik, jangan lupa, dia Ketua Umum Demokrat :D). Ibas kan beberapa kali disebut dipersidangan, tapi sampai sekarang hening.

    Kemudian, dari seluruh fraksi di DPR RI, cuma Demokrat yang menolak BG jadi Kapolri, agaknya ini segaris dengan momentum KPK menetapkan BG jadi tersangka. Tujuan utama ada pada ‘dalang’ utama yg menggerakkan pimpinan KPK. Save KPK, bukan pimpinannya, penegak hukum tidak layak berpolitik! wallahu’alam bissawab.

    saya kpk tanpa syahwat kekuasaan

  • Ok, sekarang saya coba mengikuti alur berfikir anda:

    Katakanlah misalnya bahwa ‘dalang’ dibelakang ini semua adalah SBY, dan ia melibatkan seluruh kekuatan partai demokrat yang ada di kolong langit ini (termasuk di parlemen). Lalu, motif politik SBY apa? Jangan jawab: iseng aja gangguin jokowi.

    • SBY dan Mega bertolak belakang sejak 2004. Kemudian sekarang pemerintahan berasal dari PDIP, (bisa saja) SBY takut semua boroknya dibongkar oleh Mega melalui BG yang akan jadi Kapolri (termasuk juga yang kata mas tadi iseng gangguin Jokowi, itu bukan iseng, tapi bisa jadi tujuannya supaya Jokowi kehilangan simpati dan tumbang sebelum waktunya hehe). Makanya BG dijegal lewat KPK pada MOMEN yang ‘tepat’.

      Tapi polisi yang berada langsung di bawah presiden tidak tinggal diam, Samad dkk pun dijegal (klo bahasa mas sih pelemahan, Saya setuju itu) lewat BW. Alhasil semua saling kunci rahasia politik lewat penegak hukum. Makanya pada tulisan Saya di atas dijelaskan runtutan kesamaan peristiwa, cuma pelaku nya yang berbeda. (semua ini dugaan, dan harus dicari aktor utamanya, KPK dan Polri harus lepas dari POLITIK!)

      #SaveKPK, bukan Samadnya!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer