Curug Cigamea, Layanan Tak Sesuai Harga

Curug Cigamea di kawasan Cibatok, teritorial Kabupaten Bogor merupakan satu di antara beberapa objek wisata di daerah perbukitan tersebut. Objek yang ditawarkan adalah air terjun alam setinggi kurang lebih 10 meter dari tanah. Di kawasan ini memang terdapat beberapa wisata curug. Selain Cigamea, ada juga air terjun yang cukup populer di telinga masyarakat umum, yaitu Curug Seribu atau Curug Sewu.

Lokasi perbukitan memang rata-rata memiliki air-air terjun alami yang indah dan pasti dijadikan tempat berwisata oleh para turis baik domestik maupun internasional. Wisata alam memang menarik karena bisa merasakan keindahan karya Tuhan secara langsung. Selain itu, berwisata alam seperti di curug Cigamea ini bisa menenangkan pikiran, menghilangkan stres dan tekanan, kemudian bisa menjadi terapi psikolgi tersendiri karena melihat air terjun secara langsung dan mendengarkan gemericik suara air yang jatuh dari tebing tinggi akan menjadi sensasi yang tak terbayar untuk terapi jiwa.

Aku sendiri baru sempat berwisata ke Curug Cigamea pada H+11 lebaran Idul Fitri 2011 ini. Dari cerita temanku yang tinggal disekitar lokasi curug, pada saat lebaran kemarin, tempat wisata ini penuh sesak dengan wisatawan yang rata-rata berasal dari kawasan Jabodetabek. Mungkin merayakan hari lebaran dengan mengunjungi situs wisata bisa merasakan bahwa ternyata manusia itu makhluk yang kecil, mikro dihadapan alam raya, apalagi yang Kuasa.

Ada beberapa hal yang cukup menganggu hatiku ketika berwisata ke Curug Cigamea ini. Aku bersama dengan enam orang teman menuju curug dengan mengendarai sepeda motor, teman-temanku itu lima orang dari Jakarta, dan seorang lagi adalah penduduk asli setempat.

Ketika kami memasuki gapura kampung tempat curug Cigamea berada, ada pemungutan retribusi oleh pria-pria yang berpakaian biasa. Tak terlihat bahwa mereka adalah utusan pemda Bogor yang bertugas di kawasan wisata tersebut. Lobi-lobi pun terjadi antara temanku yang memang warga setempat dengan para penjaga tersebut. Harusnya harga yang diberikan kepada kami adalah harga motor, namun mereka malah mematok harga perorang. Jumlah kami sebanyak enam orang dipatok sebesar Rp 60.000,-. Jadi harga per orangnya adalah Rp 10.000. Harga ini cukup mahal menurutku untuk kawasan wisata di perkampungan. Setelah negosiasi, akhirnya kami berenam dikenakan setengah dari harga tadi. Temanku menggunakan bahasa sunda setempat akhirya membayarkan uang retribusi sebesar Rp 30.000,-.

Perjalanan kemudian terus berlanjut dengan menanjaki jalanan menuju curug Cigamea. Sepeda motorku hanya bisa mendaki dengan persneling terendah karena curamnya tanjakan yang motor kami lalui. Selang 15 menit tanjakan yang tak pernah usai, kami tiba di situs wisata Curug Cigamea. Sepeda motor pun kami parkir. Lagi-lagi aku kaget dengan harga parkir di kawasan ini. Rp 3.000 per motornya. Bahkan di Jakarta pun tak pernah kujumpai harga parkir motor semahal itu, kecuali di mall dan pusat perbelanjaan yang memberlakukan tarif parkir per jam. Bisikku dalam hati, ya wajar saja, ini kan tempat wisata.

Setelah motor terparkir, kami pun berjalan melewati beberapa warung yang mungkin disediakan untuk wisatawan yang mengunjungi tempat tersebut, tak terkecuali pastinya kami berenam ini. Akhirnya sampai di pintu utama masuk lokasi curug. Lagi, retribusi diminta di gapura kecil yang kira-kira berukuran 2×2 meter ini. Sama seperti di gapura masuk kampung di depan, harga dipatok Rp.10.000/ orang. Pada saat itu waktu memang menjelang magribh, sekitar pukul 17.00 WIB. Penjaga gapura tengah berbincang negosiasi harga masuk kawasan air terjn dengan temanku tadi, tentunya dalam bahasa setempat, sunda, yang memang tak kumengerti.

Sekilas kudengar mereka berbahasa Indonesia, dan sang penjaga mengatakan, “kasianilah dek, kasih tambah sepuluh ribu lagi, kita kan warga sini juga, dari pemda sudah pulang dari tadi.” Kesimpulan dibenakku bahwa tadi ada penjaga tempat wisata dari pemda yang bertugas di sana. Kemudian, setelah mereka pulang, maka warga setempatlah yang mengambil alih pegelolaan sumberdaya wisata tersebut.

Akhirnya negosiasi sampai pada kesepakatan kami berenam masuk dengan harga rombongan Rp.25.000. Hatiku mendumel sendiri. Pikirku, ini sungguh manajemen yang tidak bagus, sebab, ada dua pungutan retribusi untuk satu tujuan wisata. Satu di gapura kampung, dan satunya lagi di gapura tempat wisata. Kurasakan ini adalah bagian dari obyekan warga setempat, namun ini merupakan eksplorasi wisatawan yang berlebihan. Beruntung kami ditemani oleh warga setempat. Sehingga harga bisa sedikit ditekan, bagaimana jadinya kalau kami yang berasal dari Jakarta ini datang tanpa ditemani seseorang yang kenal dengan daerah setempat. Bisa bayar dua atau tiga kali lipat.

Perjalanan berlanjut menyusuri anak-anak tangga menurun. Sekitar 20 menit berjalan kaki, dan cukup membuat tubuh ini berkeringat, kami semua sampai di tempat wisata. Kebetulan hari sudah petang, jadi para wisatawan pun sudah mulai beranjak pulang. Hanya kami dan beberapa wisatawan lain, serta beberapa penjual jagung bakar yang ada di lokasi air terjun. Hujan rintik sempat mengguyur tempat ini, namun tak menyurutkan niat kami bersegera mengambil langkah menuju air terjun yang di depan mata guna sekedar memandang, merendam kaki didinginnya air pegunungan, atau mengambil beberapa potret foto kenang-kenangan.

Ada beberapa kesan yang tak sesuai dengan citra dalam benakku ketika mendengar nama air terjun. Curug Cigamea yang kulihat tidak memiliki debit air yang deras. Air yang jatuh dari ketinggian sekitar 10 meter tersebut terlihat sangat sedikit. Tak sedikitpun menunjukkan arus deras khas air terjun. Padahal baru saja hujan terjadi di lokasi ini, tapi debit air seperti tak menunjukkan peningkatan berarti. Jika kuperhatikan air terjun ini tak menarik untuk dikunjungi sebagai tempat wisata dengan harga mahal di pintu masuknya. Air yang jatuh sangat sedikit, kontras dengan ruang tebing yang cukup luas untuk menjtauhkan air-air dingin tersebut. Aku tak tahu apakah sedikitnya air yang jatuh ini berhubungan dengan mulai padatnya pemukiman penduduk di sekitar wilayah ini.

Menurut kisah seorang temanku yang pernah ke Curug Cigamea ini sekitar delapan tahun yang lalu, air yang jatuh dari tebing tersebut sangat deras dan indah dipandang. Airnya berjumlah banyak, deras, sehingga ketika kita berdiri tepat diposisi air jatuh, kita akan merasakan seperti pijatan oleh air-air dingin nan segar itu. Entah fenomena apa yang menjadikan curug ini berubah. Kepadatan pemukiman bisa jadi merupakan salah satu faktor penyebabnya. Faktor kedua mungkin karena bulan ini telah memasuki masa kemarau, sehingga wajara debit air menyusut.

Sekarang ini, pandangan mataku menyebutkan air terjun ini biasa saja dan tak terlihat istimewa. Bahkan bisa dibilang tidak terawat oleh eksplorasi manusia sebagai tempat tujuan wisata.

Belum lagi kawasan berita ini banyak dipenuhi sampah yang berserakan seperti bungkus makanan, permen, plastik, air mineral kemasan, dan sampah-sampah lainnya. Kondisi seperti ini bisa dikatakan kurang terawat. Lebih bahaya karena kami juga menemukan pecahan kaca dilokasi ini. Bukannya benda tersebut akan melukai kaki siapapun yang menginjaknya. Padahal semua tahu ketika kita bermain air akan sangat nyaman dengan kaki yang tak memakai pembungkus. Sampah dan beling-beling kaca ini memubuatku kurang nyaman menikmati air jatuh yang sedikit ini.

Sejenak aku ingin buang air kecil, dan ternyata tetap ada pungutan untuk menggunakan kamar kecil di sini, Rp. 2000/ orang. Belum lagi ditempat ini banyak didirikan warung-warung penjaja makanan, cemilan, dan kebutuhan-kebutuan wisatawan lainnya mulai dari pintu masuk lokasi curug tadi. Ramainya warung-warung ini justru menghalangi pemandangan wisatawan sepertiku untuk melahap langsung pemandangan air terjun.

Bisa dibayangkan berapa uang yang kami keluarkan per orang untuk menikmati lokasi wisata ini. Kurasa harga yang dikeluarkan tak sepadan dengan pelayanan wisata dan disiplin serta kebersihan yang disuguhkan pengelola. Mungkin tarif ini masih tarif lebaran, tapi tetap saja hal ini membuatku enggan untuk sekedar kembali melepas tekanan Jakarta di sana.

Hal ini tentu juga dirasakan oleh para pengunjung lainnya. Menurutku, tak hanya di pemerintahan yang skala besar saja, harga tak sesuai dengan layanan, tapi dipelosok kampung seperti ini praktek tersebut bisa kurasakan juga. Sedikit rasis, bangsa kita lebih memilih mematok harga besar untuk sebuah usaha dengan kualitas biasa dibanding menaruh harga murah dengan pelayanan baik. Padahal orang China berprinsip, harga murah pelanggan banyak. Terbalik dengan Indonesia, yang sering mematok harga mahal sehingga kuantitas dan kualitas pengunjung pun biasa-biasa saja. Jangankan turis Internasional, tursi domestik saja kurasa akan kurang berminat dengan lokasi-lokasi wisata yang tak berimbang antara harga dan pelayanan.

Sejak pertama mau memasuki tempat wisata ini, jika dijumlahkan, maka kami per orang harus merogoh kocek sebesar 23 ribu. Sangat tak sepadan dengan pelayanan yang diberikan. Seharusnya momentum-momentum seperti lebaran tidak hanya dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk menangguk keuntungan berlebih, tapi harus disertai layanan yang memuaskan pengunjung. Hingga simbiosis mutualisme pun terjadi. Wisatawan pun pasti akan bertambah ramai, dan situs wisata curug Cigamea ini tentu akan semakin populer.

Saya lulusan Kampus Tercinta Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta dari Fakultas Ilmu Komunikasi konsentrasi ilmu Jurnalistik 2007-2011. Semasa kuliah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Yakin Usaha Sampai untuk Iman Ilmu dan Amal.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer