Label Halal Zoya? Tidak Perlu, Tidak Manfaat, Mubazir, Hanya Sensasi

Kemarin sempat membuka twitter dan kata Zoya menjadi trending topic di sana. Iseng buka kata kunci tersebut, ternyata Zoya, brand hijab dan busana muslim di negara ini membuat heboh netizen dengan label halal yang baru saja diperolehnya dari MUI untuk produk hijabnya.

Menurut pendapat Saya pribadi label halal yang digaungkan oleh Zoya sebenarnya sesuatu yang tidak perlu. Apalagi branding yang dibuat adalah produk Zoya merupakan hijab pertama di Indonesia yang berlabel halal. Lantas timbul pertanyaan apakah produk hijab di luar Zoya itu haram? Lantas bagaimana dengan celana, sarung, baju koko, celana ngatung dari produsen lainnya tidak mengantongi izin halal? Jawabannya cuma satu, karena label halal untuk pakaian itu tidak perlu.

Zoya yang mengajukan pematenan label halal dalam produknya Saya nilai hanya mencari sensasi saja tanpa adannya substansi dalam pelabelan halal tersebut. Coba bayangkan jika semua pakaian harus dibeli label halal? Alangkah repotnya dunia ini. Sesuatu yang tidak ada tuntunannya tapi dilakukan cenderung mubazir. Tidak ada aturan dalam Islam untuk melabeli halal sebuah pakaian. Yang terang benderang justru sudah jelas yaitu untuk kategori bahan pakaian tertentu memang tidak boleh dikenakan laki-laki misalnya. Ingat bagi seorang muslimah, hijab atau jilbab bukan bagian yang berbeda dari pakaian, tapi bagi seorang muslimah, hijab merupakan bagian dari pakaian itu sendiri. Sehingga tidak perlu membedakan adanya hijab halal, sedangkan baju, celana, kaos dalam, tidak mendapat perlakuan yang sama, padahal derajat hijab dan pakaian lainnya adalah setara bagi seorang muslimah. Justru yang kurang adalah jika seorang muslimah tidak mengenakan hijab.

Selain sebagai sensasi dan hanya untuk ajang promosi di media, Zoya ternyata lupa bahwa ada “”kehalalan” lain yang harus dikampanyekan para produsen busana muslim, yaitu bagaiaman cara berpakaian yang seharusnya. Terutama dalam berhijab. Tren berhijab memang sedang naik daun beberapa tahun belakangan ini. Masyarakat Indonesia sudah mulai menutupi aurat mereka, namun belum semua cara berhijab yang dilakukan para muslimah itu sesuai dengan tuntunan agama. Malah ada beberapa cara berbusana muslim yang justru menimbulkan “keharaman”.

Jilboobs misalnya, fenomena wanita berhijab tapi menonjolkan bagian payudaranya dengan jelas, memakai pakaian ketat yang membentuk lekuk-lekuk tubuhnya sehingga bisa dilihat dengan jelas oleh lawan jenis. Tentu ini menimbulkan “keharaman” bagi kaum adam yang melihat.

Para produsen hijab, jangan sibuk mencari sensasi untuk promosi, tapi sentuhlah substansi dakwah mengenai hijab yang sesungguhnya. Bagaimana membenahi cara berpakaian muslimah yang masih amburadul. Peran produsen hijab, terutama yang giat memberikan tutorial-tutorial hijab, kampanyekanlah cara berhijab yang baik dan sesuai dengan tuntunan syari’at. Berhijab tidak cukup dengan menutup rambut, tapi berhijab adalah menutup seluruh tubuh dari atas sampai bawah hingga yang terlihat hanya muka dan telapak tangan. Berjilbab namun masih memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh, memakai pakaian yang ketat, sesungguhnya belumlah berhijab, cuma dia berjilbab saja.

Namun strategi Zoya untuk mengangkat namanya kembali di antara ketatnya persaingan produsen hijab dan busana muslim di media massa menurut Saya cukup berhasil, karena dengan adanya Zoya halal ini jagat dunia maya jadi heboh. Cuma tetap saja tidak baik, karena sesuatu yang tidak perlu tentu saja mubazir dan tidak bermanfaat bagi umat. Bukan bahan yang harus dijadikan halal, tapi cara berhijabnya yang harus “diberi label halal”. Semoga kedepan Zoya lebih cerdas dan bermanfaat dalam strategi promosi.

Saya lulusan Kampus Tercinta Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta dari Fakultas Ilmu Komunikasi konsentrasi ilmu Jurnalistik 2007-2011. Semasa kuliah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Yakin Usaha Sampai untuk Iman Ilmu dan Amal.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer