Latihan Paskibra Tak Sebanding dengan Melayangnya Sebuah Nyawa

Pagi ini baca berita ada paskibraka yang meninggal dunia dalam camp pelatihan. Diduga kuat karena penganiayaan oknum senior. Dalam berita yang dilansir Kompas, korban yang bernama Aurel Qurrota Ain, warga Tangerang Selatan mengaku dipukuli senior hingga ada bagian tubuhnya yang legam.

Almarhumah Aurel merupakan kandidat pembawa baki bendera merah putih, yang akan diterima oleh Walikota Tangerang Selatan, pada saat upacara 17 Agustus nanti. Kronologisnya bisa langsung dibaca di media-media mainstream.

Dalam hati Saya bertanya, apakah ini buah dari perjuangan? Perjuangan calon pembawa baki merah putih? Sebenarnya tidak juga. Pengibaran bendera merah putih, upacara 17 Agustus merupakan momen bersejarah yang harus kita peringati setiap tahunnya. Saya setuju dengan itu. Jutaan rakyat Indonesia telah bersimbah darah kehilangan nyawa dan harta benda demi tegakknya si dwi warna. Sebuah sejarah perjuangan heroik yang sama sekali tidak boleh kita lupakan.

Namun, karena sebuah peringatan itu sampai menghilangkan sebuah nyawa, Saya rasa tebusan ini terlalu besar. Terlalu besar harga sebuah nyawa untuk latihan paskibraka.

Ya, mungkin ini takdir untuk Aurel, semoga ia meninggal dengan husnul khatimah. Di sisi lain, pemerintah dan segenap aparat harus membenahi pola latihan paskibraka yang mungkin terlalu keras melebihi batas-batas kemampuan paskibraka.

Ingat! Ini bukan camp pelatihan tentara yang memang menuntut jiwa dan raga untuk sebuah pengabdian pada rakyat, bangsa, dan negara. Seharusnya tidak boleh ada lagi kekerasan fisik yang terjadi dalam setiap latihan-latihan non militer di negeri ini.

Baik itu latihan paskibra, masa orientasi di sekolah atau universitas, pendidikan-pendidikan keorganisasian, semua harus meniadakan kekerasan fisik terhadap peserta. Pelatihan harus berbasis pada standar yang wajar. Hukuman fisik yang memang dibenarkan secara hukum, tekanan mental yang masih sanggup dijalankan oleh peserta, sehingga tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia.

Pelatih, asisten pelatih, maupun senior seharusnya memberikan contoh yang baik untuk generasi masa depan dengan mengedepankan pola pelatihan terstandar, bukan malah memperburuk kondisi dengan metode-metode latihan ala perpeloncoan seperti ini.

Hemat Saya, khusus pada kasus Aurel ini, pemerintah dan aparata berwenang harus turun tangan menyelidiki secara tuntas penyebab meninggalnya korban, dan jika memang ditemukan ketidakwajaran pada camp pelatihan paskibraka di Tangsel, pelaku yang terlibat harus mendapatkan hukuman/ ganjaran yang setimpal.

Karena hilangnya nyawa manusia bukan sesuatu yang biasa dan jangan kita biasakan, sama seperti hilangnya ratusan nyawa petugas pemilu 2019 yang hampir kita lupakan tanpa tindakan pengusutan.

Saya lulusan Kampus Tercinta Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta dari Fakultas Ilmu Komunikasi konsentrasi ilmu Jurnalistik 2007-2011. Semasa kuliah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Yakin Usaha Sampai untuk Iman Ilmu dan Amal.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer