Mati Listrik, Apakah Tepat PLN Minta Maaf Dihadapan Jokowi?

Jabodetabek, sebagian Jawa Barat dan Jawa Timur mengalami mati listrik pada Minggu, 4/8/2019 kemarin. Lebih dari enam jam lamanya Ibukota “gelap”. Hal yang sangat tidak biasa terjadi, utamanya di Jakarta.

Seluruh aktifitas seketika lumpuh, bahkan lampu-lampu lalu lintas tidak ada yang menyala. Masih tertolong karena peristiwa ini terjadi hari Minggu sehingga dampak kemacetan akibat kacaunya arus lalu lintas tidak terlalu kelihatan. Bayangkan jika terjadi di hari Senin?

Selain itu, dampak terhadap para pelaku usaha sangat besar, karena imbas mati listrik juga mengakibatkan jaringan ponsel hilang seketika sehingga komunikasi tidak bisa terjalin dengan baik. Pengguna jasa transportasi online terganggu, termasuk ada MRT yang terjebak di bawah tanah karena asupan listrik tidak tersedia.

Kerugian yang ditanggung PLN sendiri sekitar 90 M. Ini baru kerugian dari satu perusahaan BUMN, bayangkan kerugian yang terjadi pada masyarakat, pelaku usaha swasta, maupun wiraswasta. Entah berapa totalnya. Siapa yang harus bertanggungjawab?

Jokowi Bertanggungjawab Pada Masyarakat

Senin, 5 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo datang ke kantor PLN dan memarahi pejabat di sana. Apakah ini tepat? Menurut Saya yang dilakukan Presiden sudah benar, karena pejabat PLN yang merupakan perusahaan BUMN adalah “anak buah” Jokowi.

Namun, Jokowi lupa, bahwa tanggung pejabat PLN kepada Jokowi adalah tanggungjawab bawahan kepada atasan, sedangkan Jokowi sendiri punya tanggungjawab kepada masyarakat yang dipimpinnya, yaitu masyarakat Indonesia.

Sampai saat ini Presiden tidak mengucapkan sepatah kata maaf pun kepada masyarakat Indonesia atas layanan buruk pemerintah untuk asupan energi. Padahal, jelas bahwa tanggungjawab paling besar ada di pundak Jokowi atas segala kesalahan anak buahnya.

Pasokan energi listrik merupakan sesuatu yang vital. Sehingga harusnya listrik “tidak boleh” padam bahkan sedetik pun. Pemerintah harus punya backup plan ketika terjadi masalah dengan pembangkit listrik. Masyarakat sudah terbebani dengan biaya listrik yang terus naik per kwh nya, namun harus merasakan pemadaman dalam waktu yang lama, bahkan parahnya di daerah-daerah kadang pemadaman masih rutin dilakukan secara bergilir.

Kompensasi Tak Logis

Netizen ramai membagikan berita kejadian di luar negeri yang mengalami peristiwa serupa. Ada yang kepala negara hingga menterinya minta maaf kemudian memberikan kompensasi listrik gratis kepada masyarakatnya. Apa kompensasi pemerintah Indonesia untuk kejadian ini?

Dari rilisan berita di media, pemerintah sampai saat ini belum mengeluarkan pernyataan akan memberikan kompensasi kepada masyarakat yang terkena dampak padamnya listrik di pusat Indonesia minggu lalu itu.

Hanya PLN yang terdengar akan memberikan kompensasi kepada pelanggan dengan dana total sekitar 839 Miliar Rupiah. Namun yang miris adalah, dana kompensasi ratusan miliar tersebut bukan diambil dari APBN, namun rencananya berasal dari hasil pemotongan gaji karyawan PLN yang berjumlah sekitar 40 ribu orang.

Kerugian bertambah, tanggungjawab perusahaan dan pemerintah harus dibebankan kepada pekerja. Ibarat kata pepatah, “orang yang menanam, kita yang menuai”. Tanggungjawab ada pada pemerintah dan perusahaan, namun gaji karyawan yang diambil untuk membayar. Gaji merupakan hak pekerja, jika dipotong karena bukan kesalahannya, maka itu perbuatan yang tidak bagus. Semoga karyawan PLN sabar dan tabah.

Investigasi Mendalam Soal Penyebab Kerusakan dan Lambannya Penanganan

Pemerintah dalam hal ini pihak berwenang, mulai dari Presiden, Kementerian ESDM, Kementerian BUMN, hingga PLN harus melakukan investigasi mendalam terhadap peristiwa mati listrik kemarin. Lantas, lambannya penanganan mati listrik juga harus diselidiki secara komprehensif, sehingga peristiwa seperti ini tidak terulang lagi.

Mungkinkah kerusakan hanya karena POHON? Jika benar karena pohon, maka bisa kita pahami bahwa hanya untuk POHON saja, PLN tidak mampu mengantisipasi. Bukankah setiap industri harusnya ada analisa komplit dari seluruh aspek mulai dari peluang hingga ancaman?

Masih Ada Sisi Positif

Siang hingga malam listrik padam, ternyata masih ada sisi positifnya. Masyarakat ramai-ramai kembali berbaur dengan tetangga, bermain di lapangan, tidak menatap gadget, lebih banyak ngobrol di dalam keluarga, dan di Ibukota sendiri, kualitas udara langsung membaik. Setelah kritik, keep positive guys.

Saya lulusan Kampus Tercinta Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta dari Fakultas Ilmu Komunikasi konsentrasi ilmu Jurnalistik 2007-2011. Semasa kuliah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Yakin Usaha Sampai untuk Iman Ilmu dan Amal.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer