Ustadz Abdul Somad Akan “DiAhokkan”? Jauh Panggang dari Api!

Dua hari ini nama Ustadz Abdul Somad (UAS) heboh di media sosial, sampai ke pemberitaan yang ramai di media-media besar tanah air.

Dari berbagai berita disebutkan UAS telah dilaporkan oleh Brigade Meo Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Polda NTT karena salah satu ceramah UAS yang menyebutkan bahwa salib berisi jin mereka nilai menista agama Kristen.

Netizen lalu ramai, buzzer seperti Denny Siregar lantas terus menerus posting di akun media sosialnya konten-konten dan opini salah yang menyudutkan UAS. “Ini kesempatan nih,” mungkin itu yang ada dibenak Denny.

Abdul Rohim Ghazali, salah satu pengurus PP Muhammadiyah pun angkat bicara. Nada komentarnya sinis. Termasuk mualaf Dedy Corbuzier turut menyudutkan UAS.

Saya coba menelusuri berita-berita terkait pelaporan UAS ke Polisi. Beberapa link BERITA yang ada di Tribunnews ternyata sudah dihapus dengan pesan eror 404 di website tersebut. Malah di CNN fakta lain ditemukan, Kabid Humas Polda NTT mengatakan tidak ada laporan yang masuk terkait UAS.

UAS lantas memberikan klarifikasi, bahwa posisi beliau yakin tidak melakukan kesalahan apa pun. Ceramah yang dimaksud pun ternyata sudah lama, hampir tiga tahun yang lalu direkam. Posisi UAS saat itu sedang menjawab pertanyaan jama’ah sesuai dengan kapasitasnya, dan dilakukan di masjid yang memang domainnya umat Islam, bukan tempat umum lintas agama.

Jika kita lihat baik dari peran buzzer anonim, hingga buzzer ‘ternama’ seperti Denny Siregar dalam hebohnya pemberitaan, sepertinya ada pesan terselubung. Seperti telah diset sebuah agenda untuk menyudutkan UAS.

Kejadian ini merupakan sebuah serangan “kagetan” untuk UAS. Dilakukan secara tiba-tiba dengan Brigade Meo NTT sebagai trigger, dan buzzer, serta media mainstream sebagai alat untuk menviralkan informasi. Ditambah pendapat-pendapat tokoh publik yang turut menyudutkan UAS seperti beberapa orang yang telah Saya sebutkan di atas.

Sangat baik menurut Saya, peran UAS yang cepat memberikan klarifikasi sehingga hari ini media-media besar yang sebelumnya menyudutkan beliau bisa mendapat info pembanding. Klarifikasi yang disampaikan UAS pun sangat rasional, dan membuka fakta yang sebenarnya bahwa, berita pelaporan adalah sesuatu yang dibuat-buat. Pemberitaan pada hari sebelumnya sangat berbasis pada sentimen negatif.

Apakah UAS mau di Ahokkan (dikasuskan karena menista agama)? Entahlah, tidak bisa bro. Dalam kacamata yang fair, Saya menilai yang melaporkan UAS hanya mencari sensasi saja. Ibarat kata “Jauh Panggang dari Api”

UAS adalah sosok yang penuh wibawa. Meski dikenal humoris ketika memberikan tasiyah, namun UAS selalu berhasil mempertahankan sikap berwibawa. Hampir tidak pernah UAS terkekeh atau tertawa terbahak saat ia sendiri berhasil memancing tawa jama’ah.

UAS adalah magnet. Peran beliau dalam memasifkan lagi gerakan kembali ke masjid, meneladai akhlak hanif yang ada di qur’an dan sunnah, serta menghidupkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari hingga membuat jutaan anak muda hijrah sangat besar.

Mungkin keberhasilan UAS bersama guru-guru agama yang lain dalam membangkitkan ghirah Islam di Indonesia ini yang ditakuti mereka yang benci pada Islam.

Komentar Saya untuk Deddy Corbuzier, Mas Deddy fokus saja mendalami qur’an dan sunnah sebelum memutuskan untuk memberikan penilaian pada sesuatu.

Maju terus UAS, Jutaan umat Islam Indonesia akan berada didepanmu siap membelamu. Dakwah harus terus dilanjutkan, dan ini merupakan kewajiban bagi seluruh umat Islam.

Saya lulusan Kampus Tercinta Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta dari Fakultas Ilmu Komunikasi konsentrasi ilmu Jurnalistik 2007-2011. Semasa kuliah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Yakin Usaha Sampai untuk Iman Ilmu dan Amal.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer